Armada

armada

F.I.C DHAFIN

Spesifikasi kapal (Specific Dimension)

◉ Panjang (LOA) : 12.55 M
◉ Lebar ( Breadth ) : 3.78 M
◉ Kedalaman (Depth) : 1.97 M
◉ Tanda Selar (Call Sign) : YB3820
◉ Pelabuhan Pendaftaran (Port Registery ) : Batam
◉ Tonase Kotor (GT) : 21
◉ Tahun Pembangunan (Built of year) : 2018
◉ Material (Material) : Aluminium (Aluminum)
◉ Pemilik (Owner) : PT. ALINDA NUSANTARA BAHARI

Fast Interceptor Craft Dhafin adalah armada pertama yang dimiliki oleh PT. Alinda Nusantara Bahari. Patrol Boat Dhafin berkapasitas kru 4 orang dan akomodasi 10 orang dan dilengkapi dengan mesin Water jet System Cummins QSB, 2X355 HP dan bermaterial utama Alumunium mampu menghasilkan kecepatan mencapai 30 knots pada saat bermanuver.

Fungsi utama Fast interceptor craft Dhafin adalah melindungi zona / area berbahaya di perairan Barat Kota Batam yang termasuk kedalam West Natuna Transportation system (WNTS) restricted zone.

F.I.C CARISSA

Spesifikasi kapal (Specific Dimension)

◉ Panjang (LOA) : 12.55 M
◉ Lebar ( Breadth) : 3.78 M
◉ Kedalaman (Depth) : 1.97 M
◉ Tanda Selar (Call Sign) : YB3819
◉ Pelabuhan Pendaftaran (Port Registery) : Batam
◉ Tonase Kotor (GT) : 21
◉ Tahun Pembangunan ( Built of year) : 2018
◉ Material (Material) : Aluminium (Aluminum)
◉ Pemilik (Owner) : PT. ALINDA NUSANTARA BAHARI

Fast Interceptor Craft Carrisa adalah armada kedua yang dimiliki oleh PT. Alinda Nusantara Bahari. Patrol Boat Carissa adalah sister ship dengan Fast Interceptor Craft Dhafin yang berkapasitas kru 4 orang dan akomodasi 10 orang dan dilengkapi dengan mesin Water jet System Cummins QSB, 2X355 HP dan bermaterial utama Alumunium bisa mengahsilkan kecepatan mencapai 30 knots pada saat bermanuver.

Fungsi utama Fast interceptor craft Carissa adalah melindungi zona / area berbahaya di perairan Timur Kota batam yang termasuk kedalam West Natuna Transportation system (WNTS) restricted zone

ARLINE 02 (BUNKER VESSEL)

Spesifikasi kapal (Specific Dimension)


◉ Panjang (LOA) : 27.9 M
◉ Lebar ( Breadth) : 7.50 M
◉ Kedalaman ( Depth) : 2.65 M
◉ Tanda Selar (Call Sign) : YB6908
◉ Pelabuhan Pendaftaran (Port Registry ) : Samarinda
◉ Tonase Kotor (GT) : 233
◉ Tahun Pembangunan ( Built of year) : 2019
◉ Material Kapal (Ship’s Material) : Baja (Steel)
◉ Pemilik (Owner) : PT. ALINDA NUSANTARA BAHARI

Arline adalah armada ketiga yang berjenis Bunker Vessel (SPOB Apung) yang dimiliki oleh PT. Alinda Nusantara Bahari.

Kapal SPOB Arline dalam operasionalnya adalah sebagai distributor bahan bahar minyak berjenis solar subsidi dan non subsidi di daerah Pulau Karya, Kepulauan Seribu.

Dalam penanganan penyaluran bahan bakar minyak, PT. Alinda Nusantara Bahari bekerja sama dengan Pertamina dalam mendistribusikan ketersediaan bahan bakar minyak khususnya berjenis solar. Dengan adanya armada Arline diharapkan ketersediaan bahan bakar minyak berjenis solar tercukupi oleh masyarakat khususnya di kepulauan seribu

ARLINE (WORKBOAT)

Spesifikasi kapal (Specific Dimension)


◉ Panjang (LOA) : 28.71 M
◉ Lebar ( Breadth) : 10.50 M
◉ Dalam (Depth) : 3.20 M
◉ Tanda Selar (Call Sign) : YBA4211
◉ Pelabuhan Pendaftaran (Port Registry ) : Jakarta
◉ Tonase Kotor (GT) : 296
◉ Tahun Pembangunan ( Built of year) : 2020
◉ Material Kapal (Ship’s Material) : Baja (Steel)
◉ Pemilik (Owner) : PT. ALINDA NUSANTARA BAHARI

Work boat Arline adalah armada keempat yang dimiliki oleh PT. Alinda Nusantara Bahari. Work boat Arline adalah tipe kapal dengan design yang khusus untuk pekerjaan angkutan air tawar dan instalasi / perawatan rambu navigasi (BOUY),dan pemasanagan pipa dermaga (Harbour Pilling Construction) yang dilengkapi dengan sistem navigasi yang modern dan perlengkapan kerja yang lengkap.

Kelebihan Workboat Arline adalah sistem stabilitas yang baik serta daya angkut yang besar menjadikan Work boat Arline menjadi salah satu armada yang sangat penting di jajaran armada PT. Alinda Nusantara Bahari khususnya dalam penanganan instalasi maupun perawatan rambu atau pemasangan pilling Dermaga (Harbour Pilling Construction).

FAST RESCUE BOAT

FRB Sea Rider Fast rescue boat Sea Rider adalah armada Kelima yang dimiliki oleh PT. Alinda Nusantara Bahari.

Tugas utama FRB Sea Rider adalah untuk memastikan secara lansung, cepat dan tanggap dalam menangani situasi diperairan disekitaran BOUY berada. Dengan memanfaatkan kecepatan yang tinggi FRB Sea Rider mampu melaksanakan tugasnya dalam mendukung upaya perawatan rambu navigasi (BOUY) atau penyelamatan orang jatuh di Air.

VTS (Vessel Trafic System)

PT. Alinda Nusantara juga menyediakan layanan Vessel Traffic System untuk kepentingan sendiri. VTS PKP adalah sistem monitoring lalu-lintas pelayaran yang diterapkan oleh PT. Alinda Nusantara untuk meminitoring kapal-kapal yang berada di area zona terbatas (Restricted Zone) disepanjang Pipa gas West Natuna Transportation System (WNTS) . Sistem kerja VTS PKP menggunakan radar, closed circuit television (CCTV), frekuensi radio VHF, automatic indentification system (AIS) serta Early warning system untuk mengetahui / mengikuti pergerakan kapal dan memberikan informasi navigasi didalam suatu daerah pelayaran tertentu dan terbatas.

Penggunaan VTS secara international diatur berdasarkan rekomendasi SOLAS Chapter V Reg. 12 dan IMO Resolution A.857(20) tentang Vessel Traffic Service yang diadopsi pada tahun 1997. Pentingnya sistem ini mendorong penerapan aturan internasional penggunaan Automatic Identification System (AIS) hampir pada semua tipe kapal baik yang berlayar di perairan dalam negeri maupun luar negeri.

Secara modern VTS PKP berkerja sama dengan VTIS Batam mengintegrasikan semua informasi inputan kepada suatu pusat kendali agar memudahkan dan mengefektifkan manajemen dan komunikasi pelayaran di dalam sebuah armada. Dengan saling berkerjasama antara VTS PKP dan VTIS Batam, Output yang diberikan sistem VTS dapat berupa pengaturan pergerakan, alokasi ruang, rute pelayaran, batas kecepatan, hingga pemberitahuan terhadap suatu kondisi bahaya di perairan khususnya daerah terbatas yang berada di zona West Natuna Transportation System (WNTS).

Dari informasi yang ada dapat disimpulkan, bahwa aplikasi VTS cukup penting dalam meningkatkan sistem keamanan, keselamatan, dan efektifitas operasi armada pelayaran dengan sistem pengawasan setiap saat (24 jam).